Catatan Filsafat

WEBSITE BERISI CATATAN DAN ANALISIS TENTANG FILSAFAT, ILMU, PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, POLITIK, SOSIAL, BUDAYA, AGAMA, NILAI, DAN ETIKA
BY MUHAMMAD QATRUNNADA AHNAF
A.K.A. MQAHNAF

Full width home advertisement

Esai

Puisi

Post Page Advertisement [Top]

Filsafat Jawa dalam Serat Wedhatama: Filsafat Nusantara Modern – Kontemporer

Serat Wedhatama adalah karya KGPAA Mangkunegara IV (1809-1881). Secara umum, satu kesatuan di dalam berbagai pupuh tembangnya, berisi tentang ajaran etika, pengetahuan tentang yang baik, “laku kautamaan.” Meskipun begitu, terdapat juga konsep-konsep metafisika, filsafat ketuhanan, kosmologi, dan filsafat manusia di dalamnya, namun tidak sistematis. Dengan demikian, filsafat ini merupakan filsafat yang bersifat subjektif relatif (menurut pandangan tokoh), yang mana diperlukan interpretasi mendalam kepadanya karena filsafatnya tersembunyi secara tersirat.

Serat Wedhatama bisa diartikan sebagai serat yang berisi tentang ilmu keutamaan hidup. Hal tersebut dapat ditangkap dari asal-usul katanya. Wedha berarti ilmu dan tama berarti utama, baik, atau luhur.

Serat Wedhatama memiliki dua versi. Versi pertama dikeluarkan oleh Tanaya Surakarta, diterbitkan oleh Tan Koe Sie Kediri (1931), terdiri dari 100 bait tembang (pada), dan berisi lima pupuh: pangkur, sinom, pocong, gambuh, dan kinanthi. Sementara itu, versi kedua disusun oleh Hadisutjipto, terdiri dari 72 bait, dan tanpa pupuh kinanthi. Tidak ada perbedaan yang mencolok dan keduanya memiliki substansi yang sama.

Terdapat konsep metafisika dalam serat Wedhatama: tentang Tuhan, alam, dan manusia. Tuhan dianggap sebagai Dzat Yang Mutlak, meskipun terdapat berbagai penyebutan seperti: Allah, Hyang Widhi, Bhatara Gung, Hyang Wisesa, Manon, Hyang Manon, Hyang Sukma, dan Ingkang Maha Suci. Berbagai penyebutan tersebut disebabkan oleh tiga hal: perbendaharaan kata bahasa Jawa yang banyak, penyesuaian guru lagu (rima) dan guru wilangan (jumlah suku kata) dalam tembang, dan mengacu pada sifat-sifat Tuhan tertentu.

Tentang alam semesta, terdapat konsep triloka (makrokosmos “alam semesta” – mikrokosmos “alam manusia” – alam suwung “alam gaib/kinaot”). Makrokosmos dan mikrokosmos sebagai tempat kemenjadian. Sementara itu, alam suwung sebagai tempat kepastian atau tetap.

Serat Wedhatama berpandangan bahwa manusia merupakan makhluk yang monopluralisme: kedudukan kodrat (makhluk tuhan dan makhluk bebas), susunan kodrat (makhluk berjiwa dan makhluk bertubuh/raga, atau dapat disebut dengan term jiwangga), dan sifat kodrat (makhluk individu dan makhluk sosial) yang ketiganya berpadu menjadi satu kesatuan. Sementara itu, tujuan hidup manusia yang berupa kebahagiaan/kesempurnaan dapat dicapai melalui tingkah laku yang baik/laku kautaman. Dengan begitu, dalam menentukan jalan hidupnya manusia juga terikat norma-norma dan termasuk persyaratan: arya, arta, tri winasis.

Dalam Serat Wedhatama, terdapat tiga hal yang menyangkut perihal kebaikan: hubungan baik terhadap Tuhan (yang dicapai melalui sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa dan sembah rasa), hubungan baik terhadap sesama (membuat senang orang lain, bersedia berkorban untuk orang lain, dan berprilaku jujur/tidak menutupi diri), dan hubungan terhadap diri sendiri (mawas diri/“sadar diri,” tresno marang pribadi/”mencintai diri sendiri,” dan panggul wenthah pribadi/”merawat atau memelihara diri sendiri.”).

Contoh soal:
1.      Mengapa dalam Serat Wedhatama, Tuhan memiliki penamaan yang beraneka macam?
2.      Jelaskan konsep alam semesta dalam serat Wedhatama!
3.      Adakah keterkaitan konsep tentang Tuhan dan tentang alam semesta dalam Serat Wedhatama?
4.      Jelaskan bagaimana cara mencapai hubungan baik terhadap Tuhan, sesama manusia, dan diri sendiri dalam pandangan Serat Wedhatama!


Sumber: Budisutrisna. Modul Filsafat Nusantara Modern – Kontemporer. Yogyakarta: Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. hal. 35-39.

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib